Beranda | Artikel
Dalil-Dalil Sunnah Mengenai Keutamaan Ucapan Alhamdulillah
15 jam lalu

Manhaj Ahlus Sunnah dalam Menetapkan Nama dan Sifat Allah adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 23 Dzulhijjah 1447 H / 9 Juni 2026 M.

Kajian Tentang Manhaj Ahlus Sunnah dalam Menetapkan Nama dan Sifat Allah

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan pemilik bendera pujian (liwaul hamdi) pada hari kiamat kelak. Hal ini menjadi sebuah kebanggaan yang besar serta kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dianugerahkan khusus kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada Hari Kiamat

Imam Ahmad, Imam At-Tirmidzi, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari sahabat Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ، وَبِيَدِي لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلَا فَخْرَ، وَمَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلَّا تَحْتَ لِوَائِي، وَأَنَا أَوَّلُ شَافِعٍ، وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ وَلَا فَخْرَ

“Aku adalah sayyid (pemimpin) anak Adam pada hari kiamat dan bukan untuk berbangga, di tanganku ada bendera pujian dan bukan untuk berbangga, dan tidak ada seorang nabi pun pada hari itu, baik Nabi Adam maupun yang lainnya, kecuali berada di bawah benderaku, dan aku adalah orang yang pertama kali memberi syafaat serta yang pertama kali dikabulkan syafaatnya dan bukan untuk berbangga.” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan kelebihan diri beliau bukan dalam rangka menyombongkan diri atau berbangga-bangga, melainkan sebatas memberitahukan kepada umat mengenai kedudukan mulia beliau pada hari kiamat kelak. Kenyataan ini menunjukkan bahwa seseorang diperbolehkan menyebutkan kelebihan dirinya saat dibutuhkan, dengan syarat mutlak tidak berniat untuk pamer atau menyombongkan diri.

Di dalam hadits riwayat Imam Muslim dikisahkan bahwa pada hari kiamat kaum mukminin akan mendatangi para nabi besar, mulai dari Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, hingga Nabi Isa Alaihimussallam. Kaum mukminin berharap agar para nabi tersebut memberikan syafaat, namun seluruh nabi tersebut menolaknya. Akhirnya, manusia datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu beliau bersabda:

أَنَا لَهَا

“Akulah pemilik syafaat itu.” 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa hak kepemilikan syafaat yang paling agung (syafaatul uzma) pada hari kiamat diputuskan khusus hanya untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Alasan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan bendera pujian kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah karena beliau merupakan manusia yang paling terpuji, baik dari segi akhlak maupun kualitas ibadahnya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna di dalam mendedikasikan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bendera pujian tersebut dihadirkan agar menjadi tempat bernaung dan berlindung bagi seluruh golongan manusia yang gemar memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, mulai dari generasi manusia awal hingga generasi yang paling akhir. Sesuai dengan isyarat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadits, keberadaan seluruh nabi termasuk Nabi Adam Alaihissalam di bawah naungan bendera beliau merupakan bukti nyata atas keagungan makam pujian tersebut.

Perlu dipahami secara saksama bahwa bendera pujian (liwaul hamdi) yang dimaksud di dalam hadits ini merupakan sebuah bendera fisik yang berwujud hakiki, dan bukan sekadar bahasa kiasan atau metafora. Umat Islam diwajibkan untuk memahami setiap amanat kalimat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sesuai dengan makna hakikinya selama tidak ada dalil yang memalingkannya.

Setiap mukmin wajib memahami ucapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sesuai dengan makna hakikatnya, serta tidak boleh mengalihkan makna tersebut kepada bentuk kiasan kecuali apabila terdapat dalil yang mengharuskannya. Makna hakiki adalah makna awal yang langsung dipahami oleh akal tanpa harus melalui proses berpikir yang panjang.

Sebagai contoh di dalam penggunaan bahasa, saat seseorang mengatakan bahwa ia melihat seekor singa, maka makna yang langsung ditangkap oleh pikiran adalah binatang buas. Begitu pula ketika seseorang mengatakan bahwa kemarin ia membeli seekor kambing, maka makna hakiki yang langsung dipahami adalah hewan ternak kambing yang sudah masyhur.

Berdasarkan kaidah tersebut, keberadaan bendera pujian (liwaul hamdi) pada hari kiamat wajib dipahami secara hakiki sebagai sebuah bendera fisik yang nyata. Makna ini tidak boleh dianggap sebagai kiasan atau metafora semata sebelum ada dalil sah yang memalingkan maknanya.

Karakteristik Pengikut Bendera Pujian

Bendera yang hakiki tersebut akan dibawa langsung oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggunakan tangan beliau pada hari kiamat. Di bawah naungan bendera itulah, seluruh golongan manusia yang gemar memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala (al-hammadun), mulai dari generasi awal hingga generasi paling akhir, akan datang untuk bergabung bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kedekatan posisi seorang hamba dengan bendera Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditentukan oleh kadar aktivitasnya selama di dunia. Orang yang posisinya paling dekat dengan bendera tersebut adalah mereka yang paling banyak memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, paling sering mengingat-Nya (dzikrullah), serta paling kuat dalam menjalankan segala perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Umat Nabi Muhammad Sebagai Umat Terbaik yang Gemar Memuji

Umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditetapkan sebagai umat manusia yang terbaik, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 110)

Predikat sebagai umat terbaik ini disandang karena umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan golongan yang paling banyak memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam berbagai momentum kehidupan. Di dalam ibadah shalat, pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa diucapkan saat membaca surat Al-Fatihah maupun ketika bangkit dari rukuk (i’tidal).

Kebiasaan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala juga dipraktikkan oleh seorang muslim di luar ibadah shalat, seperti saat menaiki kendaraan, selesai menyantap makanan, serta dalam berbagai aktivitas harian lainnya.

Mengenai keutamaan orang yang gemar memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala, terdapat sebuah riwayat yang berbunyi:

أَوَّلُ مَنْ يُدْعَى إِلَى الْجَنَّةِ الْحَمَّادُونَ، الَّذِينَ يَحْمَدُونَ اللَّهَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

“Orang yang pertama kali dipanggil ke surga adalah orang-orang yang suka memuji Allah, yaitu mereka yang senantiasa memuji Allah baik dalam keadaan senang maupun susah.” (HR. Ibnu Mubarak)

Syaikh Al-Albani menilai hadits ini berstatus dhaif (lemah). Namun, Syaikh Abdur Razzaq menjelaskan bahwa riwayat ini dimuat oleh Imam Ibnu Mubarak di dalam kitab Az-Zuhd dengan sanad yang sahih secara maukuf (berhenti pada perkataan sahabat). Mengingat redaksi riwayat tersebut berbicara mengenai perkara gaib yang tidak mungkin berasal dari hasil ijtihad atau pemikiran pribadi seorang sahabat, maka riwayat maukuf ini secara hukum memiliki kedudukan yang sama dengan hadits marfu’.

Riwayat tersebut menunjukkan penegasan yang luar biasa bahwa manusia yang pertama kali dipanggil untuk memasuki surga adalah mereka yang konsisten mengucap tahmid dalam segala situasi. Sebagian besar manusia sering kali hanya mengucap alhamdulillah saat menerima limpahan nikmat atau kelancaran bisnis saja, namun langsung merespons dengan cemberut saat menghadapi kerugian.

Perilaku tersebut berbeda dengan teladan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Saat melihat perkara yang menyenangkan, beliau membaca doa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna.” (HR. Ibnu Majah)

Sementara itu, saat menyaksikan perkara yang tidak menyenangkan atau disukainya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membaca doa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan.” (HR. Ibnu Majah)

Sifat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Umatnya di Dalam Kitab Terdahulu

Terdapat sebuah atsar yang diriwayatkan dari Ka’ab Al-Ahbar, seorang ulama ahli kitab yang kemudian memeluk Islam. Beliau menyatakan bahwa di dalam kitab Taurat yang asli ditemukan tulisan mengenai karakteristik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta umatnya:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَا فَظٌّ وَلَا غَلِيظٌ، وَلَا صَخَّابٌ بِالْأَسْوَاقِ، وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَكِنَّهُ يَعْفُو وَيَغْفِرُ، وَأُمَّتُهُ الْحَمَّادُونَ، يُكَبِّرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ نَجْدٍ، وَيَحْمَدُونَهُ فِي كُلِّ مَنْزِلَةٍ

“Muhammad adalah Rasul Allah ﷺ; beliau bukan orang yang kasar dalam perkataan, bukan pula berhati keras, tidak suka berteriak-teriak di pasar-pasar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan. Akan tetapi beliau memaafkan dan mengampuni. Umat beliau adalah orang-orang yang banyak memuji Allah; mereka mengagungkan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi di setiap tempat yang tinggi, dan mereka memuji-Nya di setiap tempat persinggahan.” (HR. Ad-Darimi)

Keterangan tersebut memberikan kepastian bahwa gambaran kelembutan pribadi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam serta identitas umatnya yang gemar mengucap tahmid dan takbir sudah diabadikan sejak dahulu di dalam kitab suci sebelum Al-Qur’an, meskipun kitab Taurat yang beredar pada masa sekarang telah mengalami banyak perubahan tangan manusia.

Fasilitas Rumah Pujian (Baitul Hamdi) di Surga

Di dalam surga, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakan sebuah fasilitas istimewa berupa rumah yang dinamakan Rumah Pujian (Baitul Hamdi). Rumah ini dibangun khusus bagi para hamba yang konsisten memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kondisi senang maupun susah, serta memiliki keteguhan sabar saat menghadapi keputusan takdir yang pahit.

Mengenai latar belakang pembangunan Rumah Pujian ini, Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِمَلَائِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ. فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ. فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat-Nya: ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Allah berfirman: ‘Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Allah berfirman: ‘Lalu apa yang diucapkan hamba-Ku?’ Mereka menjawab: ‘Ia memuji-Mu dan mengucapkan istirjā‘ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un)’ Maka Allah Ta’ala berfirman: ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga, dan namailah rumah itu Baitul Hamd (Rumah Pujian).’” (HR. At-Tirmidzi)

Pengucapan kalimat alhamdulillah saat ditimpa musibah kematian anak lahir dari keyakinan penuh bahwa setiap ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hakikatnya mengandung kebaikan. Kematian anak yang belum balig dijanjikan akan menjadi dinding penghalang (hijab) bagi orang tuanya dari siksaan api neraka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala sengaja mewafatkan anak tersebut lebih dini agar ia langsung menempati surga dan menjadi penyelamat bagi orang tuanya, yang mana hal ini merupakan sebuah keuntungan besar bagi sang anak maupun orang tuanya. Oleh karena itu, setiap kali ditimpa musibah apa pun, seorang hamba dianjurkan untuk tetap memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala serta melafalkan kalimat istirja:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami pengembara kembali.” (QS. Al-Baqarah[2]: 156)

Seluruh musibah yang terjadi di dunia pada hakikatnya berfungsi sebagai penggugur dosa atau sarana pengangkat derajat seorang mukmin, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah berlaku zalim kepada hamba-Nya. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil sesuatu dari hambanya, kecuali karena Dia ingin memberi ganti yang jauh lebih baik berupa pahala, surga, maupun kematangan iman.

Kemampuan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala di tengah situasi yang sulit inilah yang mengantarkan seorang hamba meraih kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui pemahaman ini, muncul sebuah pertanyaan penting mengenai metode dan cara operasional yang harus ditempuh oleh seorang hamba agar dapat menggapai tingkatan derajat yang mulia tersebut.

Setiap mukmin tentu memiliki keinginan yang kuat agar bisa sampai kepada derajat yang mulia tersebut. Berkaitan dengan hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa kemampuan seorang hamba untuk memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala saat ditimpa kesusahan didasari oleh dua persaksian atau dua perkara:

  • Persaksian Pertama: Hamba tersebut memiliki ilmu dan keyakinan penuh bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menghendaki semua takdir tersebut. Dia meyakini bahwa segala ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bernilai baik, tertata rapi, dan mapan. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Zat Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana, Maha Mengetahui secara mendalam, lagi Maha Penyayang.
  • Persaksian Kedua: Hamba tersebut meyakini bahwa pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dirinya jauh lebih baik daripada pilihan dirinya sendiri untuk dirinya.

Apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pilihkan untuk hamba-Nya pasti merupakan perkara yang paling baik. Manusia sering kali menginginkan hal-hal yang enak saja, padahal sesuatu yang enak itu belum tentu berakibat baik bagi dirinya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala terkadang menetapkan takdir yang pahit agar terdapat kebaikan serta hikmah yang agung di balik peristiwa tersebut. Manusia mungkin tidak memahaminya secara langsung, tetapi pada kemudian hari mereka baru menyadari adanya faedah-faedah besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan dari takdir yang pahit tersebut.

Sikap Mukmin Menghadapi Fluktuasi Ekonomi

Seorang mukmin yang sejati akan selalu memiliki keyakinan yang kokoh dalam menghadapi segala dinamika kehidupan, termasuk saat terjadi kenaikan harga atau nilai mata uang. Dia yakin bahwa di balik semua fenomena tersebut pasti terdapat hikmah, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Adil dan tidak mungkin berbuat zalim kepada makhluk-Nya.

Peristiwa kenaikan harga ini pernah terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika harga barang-barang di pasar melonjak mahal, para sahabat datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengadu dan meminta solusi:

يَا رَسُولَ اللَّهِ غَلَا السِّعْرُ فَسَعِّرْ لَنَا

“Wahai Rasulullah, harga-harga barang telah mahal, maka tentukanlah harga untuk kami.” (HR. Abu Dawud)

Mendengar permintaan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan jawaban yang meluruskan akidah mereka:

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ

“Sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, yang menyempitkan rezeki, yang meluaskan rezeki, dan Yang Maha Pemberi rezeki.” (HR. Abu Dawud)

Melalui hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan sebuah prinsip akidah yang fundamental, yaitu meyakini bahwa seluruh perubahan kondisi ekonomi tidak pernah lepas dari takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Zat yang memegang kendali atas luas dan sempitnya rezeki hamba-Nya.

Kesadaran terhadap takdir mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntut seorang hamba untuk tidak terburu-buru mengeluh atau menyalahkan keadaan saat ditimpa kesulitan ekonomi. Umat Islam diperintahkan untuk menghadapi situasi tersebut dengan tawakal dan ikhtiar.

Perlu ditegaskan bahwa konsep tawakal yang benar sudah pasti mencakup aktivitas ikhtiar (usaha) di dalamnya. Tawakal memiliki dua rukun utama yang saling mengikat, yaitu melakukan ikhtiar secara maksimal secara lahiriah dan menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara batiniah. Seseorang yang memahami hakikat tawakal dengan benar tidak akan mempertanyakan urgensi ikhtiar, karena ikhtiar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tawakal itu sendiri.

Keistimewaan Sikap Mukmin di Setiap Ketetapan Takdir

Segala bentuk musibah dan takdir pahit yang menimpa seorang muslim pada hakikatnya bermuara pada kebaikan dirinya. Keistimewaan respons terhadap takdir ini hanya dianugerahkan khusus kepada orang yang beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يَقْضِي اللَّهُ لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah Allah menetapkan suatu takdir bagi seorang mukmin melainkan takdir itu baik baginya. Dan hal itu tidaklah dimiliki oleh siapapun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka hal itu urusan kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka hal itu pun urusan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Melalui hadits ini, Kehidupan seorang mukmin diwarnai oleh sikap bersyukur saat menerima kesenangan dengan melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menjauhi larangan-Nya, dan bersikap sabar saat menghadapi kesusahan. Seorang mukmin memiliki keyakinan kuat bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada maksud baik yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan untuk dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa seluruh takdir yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada seorang mukmin akan membuahkan kebaikan apabila dihadapi dengan sabar saat susah dan dengan bersyukur saat senang.

Kehidupan di dunia memang sengaja Allah Subhanahu wa Ta’ala pergilirkan. Ada kalanya manusia berada di atas, dan ada kalanya berada di bawah. Ada kalanya merasakan kesenangan, dan ada kalanya merasakan kesusahan. Hikmah di balik pergiliran kondisi ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid[57]: 23)

Apabila manusia terus-menerus merasakan kesenangan, mereka akan rentan tertipu oleh kehidupan dunia, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ujian agar mereka tidak terlena. Sebaliknya, apabila manusia terus-menerus merasakan kesusahan, mereka akan rentan berputus asa, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesenangan agar harapan mereka tetap terjaga.

Kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala inginkan bagi seorang mukmin melalui siklus ini adalah agar hamba tersebut dapat merealisasikan penghambaan (ubudiyah) dalam segala situasi, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Keadaan yang selalu senang tanpa ada kesusahan sama sekali hanya akan didapatkan kelak di dalam surga. Dunia pada hakikatnya merupakan negeri ujian (darul bala). Seseorang yang hanya menghendaki kesenangan tanpa mau menerima kesusahan di dunia akan menjadi pribadi yang kufur nikmat, mudah berputus asa, bahkan berprasangka buruk (suuzon) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Konsistensi Memuji Allah dan Kisah Yunus bin Ubaid

Seorang hamba yang meyakini dengan sepenuh hati bahwa seluruh takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala membawa kebaikan bagi dirinya pasti akan selalu memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap keadaan, baik saat lapang, sempit, senang, maupun susah.

Terkait hal ini, dikisahkan ada seorang laki-laki yang datang menemui Yunus bin Ubaid untuk mengadukan perihal sempitnya kondisi kehidupan dan ekonomi yang sedang dialaminya. Menanggapi pengaduan tersebut, Yunus bin Ubaid mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengingatkan nikmat kesehatan yang ada pada diri laki-laki tersebut. Yunus bertanya mengenai kesediaan laki-laki itu apabila matanya dibeli dengan harga seratus ribu dirham, dan laki-laki itu menolaknya. Yunus kemudian bertanya lagi mengenai kesediaan jika kedua tangan serta kedua kakinya dihargai masing-masing seratus ribu dirham, dan laki-laki itu tetap menolak.

Setelah Yunus bin Ubaid menjabarkan berbagai macam nikmat fisik yang tidak ternilai tersebut, beliau memberikan teguran yang mendalam kepada laki-laki itu:

أَرَى عِنْدَكَ مِئِينَ الْأُلُوفِ وَأَنْتَ تَشْكُو الْحَاجَةَ

“Aku melihat dirimu sebenarnya memiliki harta senilai ratusan ribu dirham, namun kamu masih saja mengadukan kesusahan dan keperluanmu.” (dalam Kitab Fiqih Doa dan Dzikir)

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa setiap kesusahan yang menimpa harus dihadapi dengan kesabaran. Kehidupan manusia tidak akan selamanya berjalan mendalam di dalam kesusahan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan memberikan masa kesenangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan janji yang pasti di dalam Al-Qur’an:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah[94]: 5-6)

Kisah Kehilangan Harta Dunia dalam Atsar Salman Al-Farisi

Pelajaran mengenai perubahan takdir dunia juga disebutkan di dalam sebuah atsar dari sahabat Salman Al-Farisi radhiallahu anhu. Beliau menceritakan perihal kisah seorang laki-laki pada masa lalu:

إِنَّ رَجُلًا بُسِطَ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا، فَانْتُزِعَ مَا فِي يَدَيْهِ، فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ

“Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang telah diluaskan rezekinya di dunia, kemudian seluruh kenikmatan dan kesenangan yang ada di tangannya tersebut dicabut hingga habis ludes oleh Allah, namun laki-laki itu justru tetap memuji Allah dan menyanjung-Nya.” (Dalam Kitab Fiqih Doa dan Dzikir)

Laki-laki di dalam atsar Salman Al-Farisi radhiallahu anhu tersebut terus memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kondisinya sedemikian memprihatinkan hingga ia tidak memiliki harta benda apa pun lagi selain selembar tikar ranggas untuk tidur. Meskipun berada di dalam kemiskinan yang ekstrem, ia secara konsisten tetap mengucap tahmid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada waktu yang sama, ada seorang laki-laki lain yang mendapatkan kelapangan rezeki duniawi menyaksikan keteguhan hamba tersebut. Orang kaya itu merasa heran lalu bertanya kepada sang pemilik tikar:

أَرَأَيْتَكَ أَنْتَ عَلَى مَا تَحْمَدُ اللَّهَ؟

“Kabarkan kepadaku, atas dasar apa kamu terus memuji Allah?” (Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim dalam ‘Uddat as-Sabirin, hlm. 167 : Kitab Fiqih Doa dan Dzikir)

Pertanyaan tersebut diajukan untuk mencari tahu alasan di balik pujian yang terus mengalir dari seorang hamba yang kondisi rezekinya sangat sempit dan hidupnya penuh kesusahan. Pemilik tikar itu kemudian memberikan jawaban yang sangat berharga:

أَحْمَدُهُ عَلَى مَا لَوْ أُعْطِيتُ بِهِ مَا أُعْطِيَ الْخَلْقُ لَمْ أُعْطِهِمْ إِيَّاهُ

“Aku memuji Allah atas karunia nikmat yang apabila aku ditawarkan untuk menukarnya dengan seluruh ciptaan yang ada, aku tidak akan pernah sudi memberikannya kepada siapa pun.” (Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim dalam ‘Uddat as-Sabirin, hlm. 167 : Kitab Fiqih Doa dan Dzikir)

Laki-laki kaya itu bertanya kembali mengenai wujud dari nikmat luar biasa yang dimaksud. Pemilik tikar menjelaskan bahwa nikmat yang ia maksud adalah karunia berupa penglihatan mata, lisan untuk berbicara, dua tangan, serta dua kaki yang melekat pada tubuhnya. Karunia fisik tersebut merupakan nikmat yang sangat agung yang wajib disyukuri dengan ucapan alhamdulillah.

Manusia sering kali tidak menyadari bahwa kesehatan indra dan anggota tubuh merupakan nikmat yang sangat besar. Kemampuan mata untuk melihat serta telinga untuk mendengar merupakan karunia yang luar biasa. Masalah yang sering terjadi adalah karena nikmat sehat tersebut sudah menjadi kebiasaan harian, manusia menjadi tidak merasakannya sebagai sebuah kenikmatan. Kebanyakan manusia mempersempit definisi nikmat hanya pada bentuk uang, harta, atau makanan saja, sementara mereka mengabaikan nikmat fungsi mata yang mereka gunakan setiap hari.

Alhamdulillah sebagai Doa yang Paling Utama

Keutamaan ucapan alhamdulillah juga ditetapkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu. Beliau menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Zikir yang paling utama adalah la ilaha illallah dan doa yang paling utama adalah alhamdulillah.” (HR. At-Tirmidzi)

Melalui hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menetapkan bahwa bentuk doa yang paling utama dan tinggi kedudukannya adalah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketetapan ini terhitung unik karena secara hakikat, kalimat pujian (tahmid) merupakan bentuk sanjungan yang ditujukan kepada Zat Yang Maha Terpuji yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang diucapkan dengan penuh rasa cinta dan pengagungan di dalam hati.

Mengenai alasan mengapa kalimat pujian dikategorikan sebagai doa, ulama besar Sufyan bin Uyainah rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang yang meminta penjelasan mengenai status ucapan alhamdulillah sebagai doa. Menjawab pertanyaan tersebut, Sufyan bin Uyainah memberikan penjelasan dengan mengambil analogi dari tradisi sastra Arab kuno. Beliau mengutip bait syair yang digubah oleh Umayyah bin Abi Shalt ketika hendak mendatangi seorang tokoh dermawan bernama Abdullah bin Jud’an untuk meminta bantuan demi menikahi seorang wanita bernama Nailah:

أَأَذْكُرُ حَاجَتِي أَمْ قَدْ كَفَانِي حَبَاؤُكَ إِنَّ شِيمَتَكَ الْحَيَاءُ

إِذَا أَثْنَى عَلَيْكَ الْمَرْءُ يَوْمًا كَفَاهُ مِنْ تَعَرُّضِهِ الثَّنَاءُ

“Apakah aku perlu menyebutkan kebutuhanku, ataukah pemberianmu telah mencukupiku? Sesungguhnya sifatmu adalah rasa malu (sehingga engkau memberi sebelum diminta).”

“Apabila seseorang memujimu suatu hari, maka pujian itu sudah cukup sebagai ungkapan kebutuhannya tanpa harus memintanya secara langsung.” (Dalam Kitab Fiqih Doa dan Dzikir)

Bait syair tersebut menunjukkan suatu kaidah sosial bahwa ketika seseorang melayangkan pujian dan sanjungan yang indah kepada sosok yang dermawan, maka esensi dari pujian tersebut pada hakikatnya adalah sebuah isyarat permohonan bantuan. Orang yang memuji tidak perlu lagi memperjelas maksud kebutuhannya karena sang dermawan sudah memahami maksud di balik sanjungan tersebut.

Jika prinsip ini berlaku di antara sesama makhluk, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Zat Yang Maha Dermawan tentu jauh lebih mengetahui maksud dan kebutuhan hamba-Nya yang datang menghadap dengan mengagungkan kalimat alhamdulillah. Pujian murni yang dialamatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara otomatis bernilai sebagai sebuah doa permohonan yang paling agung di sisi-Nya.

Metode memuji seseorang dengan tujuan tersembunyi untuk meminta bantuan menunjukkan bahwa aktivitas memuji pada hakikatnya sudah termasuk ke dalam bentuk permohonan. Ketika seseorang melayangkan pujian yang tinggi kepada temannya mengenai kedermawanannya, esensi dari tujuan tersebut adalah meminta sesuatu. Atas dasar logika inilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menetapkan bahwa bentuk doa yang paling utama adalah kalimat pujian (tahmid).

Prinsip tersebut dikuatkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala mengenai karakteristik penduduk surga:

وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan penutup doa mereka ialah: ‘Alhamdulillahirabbil ‘alamin’ (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam).” (QS. Yunus[10]: 10)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa doa terbagi menjadi dua macam, yaitu doa permohonan (dua’ul mas’alah) dan doa ibadah (dua’ul ibadah). Seseorang yang memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala karunia-Nya secara otomatis telah menunaikan kedua macam doa tersebut sekaligus. Dia telah meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus beribadah kepada-Nya, sehingga ia disebut sebagai orang yang berdoa secara hakiki. Ketentuan ini sejalan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dialah yang hidup kekal, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Allah; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Ghafir[40]: 65)

Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat manusia untuk berdoa dengan cara mengikhlaskan amal semata-mata untuk-Nya, kemudian Dia menyebutkan redaksi doa tersebut dalam wujud kalimat alhamdulillahirabbil ‘alamin. Hal ini menjadi hujah yang kuat bahwa kalimat tahmid dikategorikan sebagai bagian dari doa.

Kedudukan Kalimat Thayyibah di Dalam Timbangan Amal

Dalil lain yang menyebutkan tentang keutamaan ucapan alhamdulillah serta besarnya nilai pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala termuat di dalam kitab Sahih Muslim dari sahabat Abu Malik Al-Asy’ari radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الطَّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآنِ ـ أَوْ تَمْلَأُ ـ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Bersuci itu separuh keimanan, ucapan alhamdulillah memenuhi timbangan, dan ucapan subhanallah serta alhamdulillah keduanya memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi. Salat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar adalah sinar, dan Al-Qur’an adalah hujjah yang membelamu atau menghujatmu. Setiap manusia pergi pada pagi hari untuk menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya dan ada pula yang membinasakan dirinya.” (HR. Muslim)

Mengingat kesucian terbagi menjadi dua aspek, yaitu kesucian hati dan kesucian anggota badan, aktivitas bersuci fisik seperti berwudu dinilai sebagai separuh keimanan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa ucapan alhamdulillah memiliki bobot pahala yang sangat besar hingga mampu memenuhi mizan (timbangan amal).

Sebagian ulama berpendapat bahwa makna memenuhi timbangan tersebut berarti apabila kalimat alhamdulillah diwujudkan dalam bentuk fisik, maka ukurannya akan memenuhi mizan. Namun, pendapat tersebut dinilai kurang tepat. Pendapat yang benar adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengubah amalan-amalan keduniaan para hamba-Nya menjadi bentuk rupa materi pada hari kiamat untuk kemudian ditimbang. Di antara sekian banyak amal saleh yang ditimbang, ucapan alhamdulillah merupakan salah satu komponen yang paling memberatkan mizan.

Keutamaan timbangan amal ini berkaitan erat dengan hadits masyhur mengenai dua kalimat yang dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Dua kalimat yang dicintai oleh Ar-Rahman, ringan di lisan, namun berat di dalam timbangan, yaitu: Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘adzim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua kalimat thayyibah tersebut sangat mudah dan hanya memerlukan waktu beberapa detik saja untuk dilafalkan. Manusia sering kali mengalami kerugian karena lebih senang menghabiskan waktu untuk menyebut nama orang lain atau membicarakan urusan sesama makhluk daripada melafalkan kalimat yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ini.

Ucapan alhamdulillah memiliki kedudukan yang sangat agung serta pahala yang melimpah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga tidak boleh dipandang remeh oleh seorang hamba.

Download MP3 Kajian Tentang Manhaj Ahlus Sunnah dalam Menetapkan Nama dan Sifat Allah


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56321-dalil-dalil-sunnah-mengenai-keutamaan-ucapan-alhamdulillah/